Mar 2, 2007

KEPAHLAWANAN

Untuk sepupuku "Ino" yang baru saja mendaftar menjadi tentara


Pagi ini begitu sibuk. Masyarakat kota berjalan di trotoar dengan tujuan pagi yang sangat membebankan. Rupa-rupa air muka mereka tampakkan. Tergantung seragam yang mereka kenakan. Dasi yang begitu ketat tergantung dileher menunjukkan peluang dan hambatan dari tiap ujung keningnya. Seragam sekolah menunjukkan kepasrahan masa remaja dalam kekakuan gerak dan berimajinasi. Pakaian kumuh dan lusuh menunjukkan kekalahan hidup dan kepasrahan pada nasib. Masih banyak lagi rupa yang berjalan di trotoar itu. Trotoar depan rumah Pak Darmadi. Penguasaha muda di kota itu. Sebulan lalu dia memecat Boby. Penjaga rumahnya siang dan malam. Alasan kemalingan dan Boby gagal menghalangi niat para maling itu.
Saat itu tepat jam 2:00 dini hari. Seorang yang berpotensi menjadi maling profesional masuk dengan memanjat tembok pagar setinggi dua meter. Boby dengan sigap melompat dan menerkamnya dengan kekuatan yang muncul dari tanggung jawabnya sebagai penjaga. Tapi dia tidak punya senjata. Dan akhirnya kalah hanya dengan satu kali tendangan keras dari maling itu tepat mengenai dadanya. Dia tertelungkup. Mengerang kesakitan dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain memandangi maling itu mengendap mendekati jendela rumah tanpa pengaman anti maling.
Paginya, begitu rasa sakit didadanya yang belum pulih betul, dia menjadi sasaran kemarahan majikannya. Terusir tanpa ada penjelasan darinya akan usaha yang mempertaruhkan nyawanya semalam. Hanya menunduk. Sesekali menoleh kemajikannya dan sekeliling halaman yang tak begitu luas. Dia berjalan menghampiri pagar dan pergi. Sekali lagi, dia terusir.
Pagi ini begitu sibuk. Berbagai merek dan model kendaraan lalu-lalang dijalan kota itu. Derunya begitu menenggelamkan pikiran-pikiran kreatif. Polusinya menyesakkan nafas. Bunyi klakson menandakan ketidaksabaran yang berlebihan dan kerakusan yang teramat sangat. Sesekali pengemudinya meneriaki dengan nuansa makian kepada pengemudi lainnya :
“we….telaso, jalanko cepat!”
Atau
“hati-hatiko ces, pakai weserko!”
Dan atau
“tolona anne……!”
Atau mungkin
“mako mati?”
Begitu ragam pagi ini kata-kata yang menunjukkan ketidaksabaran dari para pengemudi. Seragam makanan yang tersaji didepan hidung Betriks. Penjaga baru di rumah Pak Darmadi. Penjaga yang menggantikan tugas Boby siang dan malam. Baru dua minggu dia bertugas dan cukup meyakinkan Pak Darmadi dengan body yang lebih besar dan kekar dibandingkan Boby. Tentu akan menjadi pertimbangan bagi para maling untuk mencuri melihat body Betriks yang begitu besar kekar yang bisa menerkam tiga orang sekaligus meskipun belum teruji.
Pagi ini begitu sibuk. Tapi tidak begitu sibuk bagi Pak Darmadi. Dia masih bermalas-malasan di tempat tidur. Sebagai pimpinan Perusahaan Topaz, dia tidak terlalu mengikat dirinya dengan waktu kantorannya. Lelahnya semalam belum pulih. Semalaman dia mendapat undangan dari Pak Sutomo, Direktur Bank Kapor, di Club Kembang Peluk. Aneka macam dia nikmati di club itu hingga lelahnya begitu berat. Di pertengahan malam dia pulang kerumahnya dengan kepala yang sudah miring kekiri dan kekanan. Baju dan celana yang kusut tidak beraturan seperti prajurit perang yang baru saja duel one to one. Dia mebuka pagar dan dilihatnya Betriks tetap terjaga, berdiri kokoh bak hulk hogan. Pak Darmadi tersenyum puas :
“baguuus……, lanjutkan kerjamu!” sambil mengelus-elus pundak Betriks.
Pagi ini begitu sibuk. Ceceran darah yang begitu banyak didepan rumah Pak Darmadi. Tidak ada yang tahu apakah ceceran darah itu adalah milik manusia atau binatang. Orang-orang yang lewat didepan rumah Pak Darmadi tidak begitu mempersoalkan. Mereka berjalan dengan berbagai macam dipikirannya. Sekali lagi sesuai dengan seragam yang dikenakannya. Begitu juga dengan seisi rumah Pak Darmadi. Tidak ada yang mempertanyakan kenapa ada darah di depan rumahnya.
Ceceran darah itu kian lama kian meresap dan menyatu keras dengan aspal jalanan. Mengering oleh hembusan nafas knalpot kendaraan. Dipermukaannya penuh dengan debu jalanan. Terkadang terlindas ban kendaraan yang lalu lalang.
Pagi ini begitu sibuk. Beberapa pejalan kaki terlihat menutup hidup dan mulutnya setelah sesempat mungkin menengok ke selokan sedalam 2 meter di depan rumah Pak Darmadi. Meludah beberapa kali, entah karena jijik atau kebiasaan. Ada apa di dalam selokan itu?
Boby, yah… Boby yang terlentang penuh darah. Darahnya begitu banyak hingga menutupi seluruh bagian-bagian tubuhnya. Dia tidak bergerak sedikit pun. Mati. Sungguh mekanisme kematian yang sangat tragis. Didadanya terdapat 3 tusukan badik sehingga mengeluarkan darah yang begitu banyak. Mulutnya pun mengeluarkan darah. Tampaknya sebelum tusukan badik itu mendarat di dadanya, pukulan telak berkali-kali lebih dahulu mendarat didada dan mukanya.
Pagi ini begitu sibuk. Tidak ada yang tahu cerita dini hari tadi. Penyebab kematian Boby didepan rumah Pak Darmadi. Kepahlawanannya telah mencegah niat para maling untuk mencuri. Maling yang sama yang telah membuatnya terusir dan kehilangan kepercayaan dari Pak Darmadi.
Saat itu pukul 2:00 dini hari ketika maling yang sama sebulan lalu datang dengan kepercayaan diri yang begitu tinggi. Pengalaman sebulan yang lalu tidak membuatnya kuatir untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Dia tidak tahu kalau Boby sudah di pecat dari tugasnya sebagai penjaga. Kini dia harus berhadapan dengan penjaga yang berbadan lebih besar dan kekar dari Boby.
Saat itu pukul 2:00 dini hari ketika Boby menyempatkan diri melintas didepan rumah Pak Darmadi. Dia melihat maling yang sama sebulan lalu mengintai dibalik pagar Pak Darmadi. Dengan rasa tanggungjawab yang masih tersisah sebagai penjaga dan keinginan untuk berbuat di sisa hidupnya, dia berlari sekencang mungkin menghampiri maling itu. Melompat dan menerkam dengan sekuat tenaga. Terjadi perkelahian yang begitu seru :
“Biadab, mati kau” maling itu melancarkan tendangan bertubi-tubi kearah dada Boby. Boby terlempar dan tersandar di pagar. Tersungkur, meski merasakan sakit yang sangat hingga mengeluarkan darah di mulutnya, dia berusaha bangun dan kembali menerkam. Kembali terjadi perkelahian. Kali ini Boby berhasil menggigit tangan dan kakinya. Lukanya mengeluarkan darah yang banyak. Boby belum puas. Dia melompat dan berhasil mencakar muka maling itu. Maling itu mengerang kesakitan. Tapi dia mengeluarkan sebilah badik yang tersembunyi dari balik bajunya dan menusukkannya tepat di dada kiri Boby. Boby mengerang. Sakit tentu dan mengeluarkan darah. Mengalir begitu deras. Kembali dia tersungkur di jalan depan rumah Pak Darmadi. Didalam pikirannya hanyalah menang atau mati. Sebuah tekad yang begitu berani dalam hidup. Dengan tekadnya itu, dia kembali berdiri. Sempoyongan dan menerkam selanjutnya menggigit paha maling itu. Maling itu mengerang kesakitan. Juga mengeluarkan darah dan tersungkur. Kedua makhluk itu silih berganti menyerang hingga mereka bergulingan diatas aspal jalan yang sudah sepi. Begitu lama pergumulan itu hingga kemudia maling itu kembali meraih badiknya dan menusukkan sebanyak dua kali di dada Boby. Kini Boby benar-benar tidak bisa berkutik lagi. Darahnya semakin banyak. Kembali tersungkur dan tidak bisa bangun kembali. Matanya menatap tajam kearah maling itu seolah-olah dia ingin mengatakan “Akulah pemenang, karena kau tidak adil. Kau memakai badik. Sungguh manusia tidak pernah adil”. Itulah kata terakhir dari Boby sebelum dia gugur sebagai pahlawan. Maling itu berdiri tertatih dengan luka yang banyak di sekujur tubuhnya. Susah payah dia berdiri dan mengangkat tubuh Boby dan membuangnya ke selokan. Setelah itu, maling itu berdiri sejenak menatap lama rumah Pak Darmadi. Lalu berjalan, pergi. Dia mengurungkan niatnya malam itu untuk mencuri. Lukanya begitu banyak dan sekujur tubuhnya penuh dengan darah sehabis perkelahian sengit dengan Boby yang berakhir dengan kematian Boby.
Pagi ini begitu sibuk. Ternyata Betriks baru bangun dari tidurnya. Dia luput dari kejadian dini hari tadi. Kejadian yang hampir mengancam karirnya sebagai penjaga rumah Pak Darmadi. Bobylah yang telah menyelamatkan karir dan nyawanya dengan mengorbankan hidupnya.
Pagi ini benar-benar begitu sibuk hingga lupa memberi penghargaan terhadap Boby, sang pahlawan. Tubuhnya tetap terlentang di selokan. Bercampur kotoran dan sampah manusia. Tubuhnya penuh darah, dan mulutnya menganga seolah-olah dia ingin mengatakan :
“Dalam sejarah, yang aku temukan adalah kemengan tanpa penghargaan”
Pagi ini begitu sibuk. Boby hanyalah binatang sejenis Anjing. Tapi dia adalah pahlawan. Tuhan sangat memuja kepahlawanan. Dan aku begitu ingin menjadi seperti Boby. Seperti anjing penjaga. Tidak perlu berbagai macam seragam untuk menjaga negara ini. Tidak perlu senjata ataupun undang-undang yang begitu rumit. Cukup cakar dan gigi taring untuk menyerang musuh.


Makassar, Maret 2007